PURPOSE



JAWABAN UAS SEMESTER GANJIL 2011/2012
NAMA                       : ANITA ADESTI
NIM                            : 2011.25.13051
PROGRAM STUDI : TEKNOLOGI PENDIDIKAN PPS UNSRI
MATA KULIAH      : METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN
PENGAMPU             : 1. Prof. Dr. M. DJAHIR BASIR, M.Pd.
                                      2. Dr. EDI HARAPAN, M.Pd.

SOAL
DESAIN PROPOSAL TESIS
PENELITIAN KOMPARATIF DENGAN JUDUL :


STUDI KOMPARATIF MUTU HASIL BELAJAR MAHASISWA PADA MATA KULIAH ICT  YANG DIAJAR DOSEN BERPENDIDIKAN MAGISTER (S2) DENGAN DOSEN YANG BERPENDIDIKAN DOKTOR (S3) DI UNIVERSITAS HARAPAN PALEMBANG INDONESIA

PROPOSAL PENELITIAN TESIS
STUDI KOMPARATIF MUTU HASIL BELAJAR MAHASISWA PADA MATA KULIAH ICT YANG DIAJAR DOSEN BERPENDIDIKAN MAGISTER (S2) DENGAN DOSEN YANG BERPENDIDIKAN DOKTOR (S3) DI UNIVERSITAS HARAPAN PALEMBANG INDONESIA
1.    Latar Belakang
Proses pendidikan merupakan kegiatan memobilisasi segenap komponen pendidikan oleh pendidik yang terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan. Bagaimanakah proses pendidikan itu dilaksanakan sangat menentukan kualitas hasil pencapaian tujuan pendidikan. Kualitas pembelajaran menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya. Kedua segi tersebut saling berkaitan. Walaupun komponen-komponennya bagus, seperti tersedianya sarana dan pra sarana serta biaya yang cukup, jika tidak ditunjang dengan pengelolaan yang ada dalam lingkup makro maupun mikro, maka tujuan tidak akan tercapai secara optimal. Yang menjadi tujuan utama pengelolaan proses pendidikan yaitu terjadinya proses belajar dan pengalaman mengajar yang optimal. Sebab berkembangnya tingkah laku peserta didik sebagai tujuan belajar hanya dimungkinkan oleh adanya pengalaman belajar yang optimal. Di sini jelas bahwa pengelolaan dan pendayagunaan teknologi pendidikan memegang peranan penting.
Dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, tugas seorang dosen harus mempersiapkan desain pembelajaran, mulai dari persiapan buku-buku literatur, menganalisis instruksional, merumuskan tujuan pembelajaran, memilih dan menentukan cara penyampaian materi atau strategi pembelajaran yang tepat, menyusun langkah-langkah pembelajaran sampai pada evaluasinya, yang tertuang dalam SAP (Satuan Acara Perkulaiahan). Hal itu dilakukan agar materi yang disampaikan sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Tujuan pembelajaran akan tercapai secara efektif, jika disampaikan dengan strategi atau metode pembelajaran yang sesuai serta media yang mendukungnya. Oleh karena itu penetapan strategi yang relevan merupakan suatu keharusan.
Strategi pembelajaran yang tepat akan membina mahasiswa untuk berfikir mandiri, kreatif, dan sekaligus adaptif terhadap berbagai situasi yang terjadi dan yang mungkin terjadi. Penetapan strategi yang tidak sesuai dapat berakibat fatal. Tujuan tidak tercapai, dan kegiatan belajar mengajar tidak menghasilkan hal-hal yang produktif dan berlawanan dengan apa yang ingin dicapai. Proses pembelajaran di dalam kelas harus membantu proses belajar peserta didik dan merangsang serta mendorong mereka untuk secara mandiri aktif melakukan sesuatu. Oleh karena itu ketika mempersiapkan perkuliahan, dosen harus memikirkan cara agar mahasiswa memproses informasi yang disampaikan. Di sisi lain, dosen juga harus mempertimbangkan cara mengkaitkan informasi yang disampaikan dengan pengetahuan sebelumnya yang telah dimiliki oleh mahasiswa. Dengan demikian, seluruh rangkaian proses pembelajaran mulai dari mendengar, beraktifitas, dan berdiskusi, diharapkan menjadi pengalaman yang berkesan kuat dan bermanfaat bagi mahasiswa.
Berdasarkan Undang Undang guru dan dosen Bab V tentang kualifikasi, kompetensi, sertifikasi, dan jabatan akademik pasal 45 menyatakan bahwa dosen wajib memiliki kualitas akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmanidan rohani, dan memenuhi kualifikasi lain yang di persyaratkan satuan pendidikan tinggi tempat bertugas, serta memeiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pasal 46 menyatakan:
(1)  Kualifikasi akademik dosen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 diperoleh melalui pendidikan tinggi program pascasarjana yang terakreditasi sesuai dengan bidang keahlian.
(2)  Dosen memiliki kualifikasi akademik minimum:
a.   lulusan program magister untuk program diploma atau program sarjana; dan
b.   lulusan program doktor untuk program pascasarjana.
(3)  Setiap orang yang memiliki keahlian dengan prestasi luar biasa dapat diangkat menjadi dosen.
(4)   Ketentuan lain mengenai kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dan keahlian dengan prestasi luar biasa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditentukan oleh masing-masing senat akademik satuan pendidikan tinggi.
Sementara itu Aplikasi dalam dunia pendidikan tingkat pendidikan dosen kerap dijadikan acuan dalam baik atau tidaknya mutu hasil belajar mahasiswa yang diajar dosen S2 ataupun S3 atas dasar inilah penulis ingin membandingkan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah ICT yang diajar dosen S2 dengan yang diajar Dosen S3 yang memiliki Kualifikasi pendidikan ICT, karena berdasarkan penelitian pendahuluan penulis tentang hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah ICT di universitas harapan palembang menunjukkan ada perbedaan antara mahasiswa yang diajar dosen S2 ataupun S3.  Hasil belajar mahasiswa dan tingkat pendidikan dosen yang mengajar merupakan konsep yang tidak bisa dipisahkan. Belajar merujuk pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subyek dalam belajar. Sedangkan tingkat pendidikan dosen merujuk pada kemampuan dosen dalam membarikan materi yang baik dan dapat di terima oleh mahasiswanya. Dua konsep belajar mengajar yang dilakukan oleh mahasiswa dan dosen terpadu dalam satu kegiatan, diantara keduannya itu terjadi interaksi dengan dosen.
Kemampuan yang dimiliki siswa dari proses belajar mengajar saja harus bisa mendapatkan hasil bisa juga melalui kreatifitas seseorang itu tanpa adanya intervensi orang lain sebagai pengajar. Oleh karena itu hasil belajar yang dimaksud disini adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki seorang mahasiswa setelah ia menerima perlakukan dari pengajar (dosen),  seperti yang dikemukakan oleh Sudjana. Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki mahasiswa setelah menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2004 : 22). Sedangkan menurut Horwart Kingsley dalam bukunya Sudjana membagi tiga macam hasil belajar mengajar : (1). Keterampilan dan kebiasaan, (2). Pengetahuan dan pengarahan, (3). Sikap dan cita-cita (Sudjana, 2004 : 22).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh dosen sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari. Atas dasar inilah maka penulis tertarik mengangkat judul penelitian tentang “Studi Komparatif Mutu Hasil Belajar Mahasiswa Pada Mata Kuliah ICT yang Diajar Dosen Berpendidikan Magister (S2) Dengan Dosen Yang Berpendidikan Doktor (S3) Di Universitas Harapan Palembang Indonesia.
2.    MASALAH
2.1    Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar belakang diatas, maka yang jadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ Apakah ada perbedaan mutu hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah ICT yang diajar dosen yang berpendidikan Magister (S2) dengan yang diajar dosen yang berpendidikan Doktor (S3) di Universitas Harapan Palembang Indonesia”?
2.1 Pembatasan Masalah
Agar Penelitian ini tidak menyimpang dan meluas, maka permasalahan dalam penelitian ini dibatasi dalam ruang lingkup sebagai berikut:
a.    Mutu Hasil Belajar disini adalah mutu hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah ICT berdasarkan nilai KHS semester ganjil tahun ajaran 2010/2011.
b.    Mahasiswa yang diteliti adalah mahasiswa S1 program studi teknologi pendidikan semester ganjil tahun ajaran 2011/2011.
c.    Dosen yang diteliti adalah dosen yang mengajar kelas reguler program studi Teknologi Pendidikan Tahun ajaran 2010/2011.
d.   Mata kuliah ICT yaitu mata kuliah yang sedang diambil dan diikuti mahasiswa pada semsterr ganjil di universitas Harapan Palembang. 
3.    TUJUAN PENELITIAN
Tujuan diadakannya penelitian ini yaitu: Untuk mengetahui perbedaan mutu hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah ICT yang diajar dosen yang berpendidikan Magister (S2) dengan yang diajar dosen yang berpendidikan Doktor (S3) di Universitas Harapan Palembang Indonesia.
4.    KEGUNAAN HASIL PENELITIAN
Setelah diketahui ada perbedaan/perbandingan mutu hasil belajar pada mata kuliah ICT yang diajar dosen yang berpendidikan Magister (S2) dengan yang diajar dosen yang berpendidikan Doktor (S3) maka kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
a.    Bagi dosen baik yang berpendidikan S2 ataupun yang berpendidikan S3 dengan adanya penelitian ini diharapkan sebagai motivasi dalam meningkatkan kegiatan pembelajaran, sehingga mutu hasil belajar mahasiswa sesuai dengan tuntutan kurikulum  Universitas dan tuntutan dunia kerja yang membutuhkan tenaga pendidik yang menguasai ICT dengan baik dan mumpuni.
b.    Bagi mahasiswa Sebagai alat motivasi sehingga dapat berprestasi lebih baik, khususnya dalam  mata kuliah ICT
c.    Bagi peneliti sebagai motivasi sebagai calon dosen untuk lebih baik dalam meningkatkan pembelajaran dan sebagai khasanah penambah ilmu pengetahuan penulis sendiri. 
5.    LANDASAN TEORI
5.1.1 Hakikat Mengajar di Perguruan Tinggi
Definisi Pembelajaran berhubungan erat dengan belajar dan mengajar. Belajar, mengajar dan pembelajaran terjadi bersama-sama. Belajar terjadi bisa terjadi tanpa guru atau tanpa kegiatan mengajar dan pembelajaran formal lain. Jadi Pembelajaran adalah suatu usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan profesional yang dimiliki guru untuk mencapai tujuan kurikulum. Menurut Gagne dan Briggs (1979:3) mengartikan  instructions atau pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar mahasiswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar mahasiswa yang bersifat internal.
Kinerja dosen adalah akumulasi dari ability (kognitif,afektif, dan psikomotor ) dan Personality ( Motivasi, sikap, dan konsep diri ) yang dimiliki guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. ( Suprapto, 2004 ). Ukuran Kinerja Dosen terlihat dari rasa tanggung jawabnya menjalankan amanah profesi yang diembannya, rasa tanggung jawab moral dipundaknya, yang terlihat kepada kepatuhan dan loyalitasnya di dalam menjalankan tugas mengajarnya di dalam kelas dan tugas kependidikannya di luar kelas. Sikap ini dibarengi pula dengan dengan rasa tanggung jawabnya mempersiapkan segala perangkat pembelajaran sebelum melaksanakan proses pembelajaran sampai meng-evaluasi hasil belajar. Adapun Komponen komponen yang mempengaruhi kinerja dosen agar dapat meningkat secara optimal adalah :
a.       Profesionalisme dosen
b.      Kompetensi dosen
c.       Sarana dan pra sarana kampus yang berkualitas sesuai dengan standar.
d.      Manajemen perguruan tinggi dengan lembaga penjaminan mutu yang handal
e.       Kesejahteraan dosen
f.       Pengembangan pengetahuan dosen dengan penelitian dan pengabdian masyarakat
g.      Metode untuk mengukur akuntabilitas kinerja yang sesuai/Adanya monitoring yang baik dan berkelanjutan guna peningkatan kinerja tersebut.

a)    Profesionalisme Dosen
Dosen yang profesional adalah dosen yang memiliki kompetensi tertentu sesuai dengan persyaratan yang dituntut oleh profesi kependidikan. Profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya. Beberapa pendapat para pakar pendidikan tentangpersyaratan profesionalisme dosen/guru di abad pengetahuan yaitu : Maister (1997) mengemukakan bahwa profesionalisme bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan Supriadi (1998) mengemukakan lima syarat dosen profesional yaitu :
·         Mempunyai komitmen pada mahasiswa dan proses belajar
·         Menguasahi secara mendalam bahan dan metode yang diajarkan
·         Bertanggung jawab memantau hasil belajar melalui evaluasi
·          Mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukan
·         Mampu melayani masyarakat dan menjadi bagiannya.
 Arifin (2000) syarat dosen/guru Indonesia yang profesional harus mempunyai :
·         Dasar ilmu yang kuat
·         Penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praktis pendidikan
·         Pengembangan kemampuan profesional berkesinambungan berupa penyetaraan pendidikan, pelatihan, dll untuk peningkatan kinerjanya.
Kemerosotan pendidikan bukan diakibatkan oleh kurikulum tetapi oleh kurangnya kemampuan profesionalisme dosen dan keengganan belajar mahasiswa. Profesionalisme menekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya. Profesionalisme bukan sekedar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi mempunyai tingkah laku yang dipersyaratkan.
Dosen yang profesional pada dasarnya ditentukan oleh attitudenya yang berarti pada tataran kematangan yang mensyaratkan willingness dan ability,baik secara intelektual maupun pada kondisi yang prima. Profesionalisasi harus dipandang sebagai proses yang terus menerus.
b)   Kompetensi Dosen
Kompetensi tenaga pengajar di Indonesia pada umumnya mengacu pada tiga jenis kompetensi, yaitu: (1), kompetensi pribadi, (2) kompetensi profesi jabatan yang ditekuni, (3) kompetensi kemasyarakatan. Kompetensi tersebut berpadu dalam satu kinerja khusus atau berakumulasi dalam sikap dan tingkah laku, baik sebagai makhluk individual, sebagai makhluk sosial dan sebagai tenaga professional.
Ada 10 dasar kompetensi dosen yang harus di miliki oleh dosen/guru sebagai syarat menjadi dosen yang profesional yaitu :
·      Menguasai bahan (mata kuliah yang diajarkan)
·      Mengelola program belajar mengajar (dari persiapan perangkat mengajar sampai melaksanakan program belajar mengajar)
·      Mengelola kelas (mengatur tata ruang kelas dan menciptakan iklim belajar mengajar yang sesuai)
·      Menggunakan Media/sumber belajar (mengenal, memilih dan menggunakan media yang bervariatif, membuat alat-alat bantu pelajaran yang sederhana, menggunakan dan mengelola  laboratorium,perpustakaan,dan micro-teaching yang disesuaikan dengan bidang studi yang diajarkannya)
·      Menguasai landasan-landasan kependidikan
·      Mengelola interaksi belajar-mengajar
·      Menilai prestasi mahasiswa untuk kepentingan pembelajaran
·      Mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan
·      Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
·      Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan pembelajaran.

5.1.2 Mutu Hasil Belajar
Mutu menurut  (Wirakartakusumah, 1998) dalam Karsidi 2005,  adalah suatu terminologi subjektif dan relatif yang dapat diartikan dengan berbagai cara dimana setiap definisi bisa didukung oleh argumentasi yang sama baiknya. Secara luas mutu dapat diartikan sebagai agregat karakteristik dari produk atau jasa  yang memuaskan kebutuhan konsumen/pelanggan. Karakteristik mutu dapat diukur secara kuantitatif dan kualitatif. Dalam pendidikan, mutu adalah suatu keberhasilan proses belajar yang menyenangkan dan memberikan kenikmatan. Pelanggan bisa berupa mereka yang langsung menjadi penerima produk dan jasa tersebut atau mereka yang nantinya akan merasakan manfaat produk dan jasa tersebut.   Untuk bisa menghasilkan mutu,  menurut Slamet (1999) terdapat empat usaha mendasar yang harus dilakukan dalam suatu lembaga pendidikan, yaitu :
1. Menciptakan situasi “menang-menang” (win-win solution) dan bukan situasi “kalahmenang” diantara fihak yang berkepentingan dengan lembaga pendidikan (stakeholders). Dalam hal ini terutama antara pimpinan lembaga dengan staf lembaga harus terjadi kondisi yang saling menguntungkan satu sama lain dalam meraih mutu produk/jasa yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan tersebut.
2. Perlunya ditumbuhkembangkan adanya motivasi instrinsik pada setiap orang yang terlibat dalam proses meraih mutu. Setiap orang dalam lembaga pendidikan harus tumbuh motivasi bahwa hasil kegiatannya mencapai mutu tertentu yang meningkat terus menerus, terutama sesuai dengan kebutuhan dan harapan pengguna/langganan.
3. Setiap pimpinan harus berorientasi  pada proses dan hasil jangka panjang. Penerapan manajemen mutu terpadu  dalam pendidikan bukanlah suatu proses perubahan jangka pendek, tetapi usaha jangka panjang yang konsisten dan terus menerus.
4. Dalam menggerakkan segala kemampuan lembaga pendidikan untuk mencapai mutu yang ditetapkan, harus dikembangkan adanya kerjasama antar unsur-unsur pelaku proses mencapai hasil mutu. Janganlah diantara mereka terjadi persaingan yang mengganggu proses mencapai hasil mutu tersebut. Mereka adalah satu kesatuan yang harus bekerjasama dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain untuk menghasilkan mutu sesuai yang diharapkan.
Dalam kerangka manajemen pengembangan mutu terpadu, usaha pendidikan tidak lain adalah merupakan usaha “jasa” yang memberikan pelayanan kepada pelangggannya, yaitu mereka yang belajar dalam lembaga pendidikan tersebut (Karsidi, 2000). Potensi perkembangan, dan keaktifan murid tentu saja merupakan yang paling utama dalam peningkatan mutu pendidikan. Perkembangan fisik yang baik, baik jasmani maupun otak, menentukan kemajuannya. Demikian pula dengan lainnya, misalnya bakat, perkembangan mental, emosional, pibadi, sosial, sikap mental, nilai-nilai, minat, pengertian, umur, dan kesehatan; kesemuanya akan mempengaruhi hasil belajar dan mutu seseorang. Untuk itu, maka  perhatian terhadap paserta didik menjadi sangat penting. 
Adapun mutu hasil belajar menurut Sudjana (1990:22) adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah iamenerima pengalaman belajaranya. Dari dua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu keterampilan yang dimiliki mahasiswa setelah ia mengalami aktivitas belajar. Gagne mengungkapkan ada lima kategori hasil belajar yakni : informasi verbal, kecakapan intelektual, strategi kognitif, sikap dan keterampilan. Sementara Bloom mengungkapkan tiga tujuan pengajaran yang merupakan kemampuan seseorang yang harus dicapai dan merupakanhasil belajar yaitu : kognitif, afektif dan psikomotorik (Sudjana, 1990:22). Hasil belajar yang dicapai mahasiswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu : Faktor dari dalam diri mahasiswa, meliputi kemampuan yang dimilikinya, motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis. Faktor yang datang dari luar diri mahasiswa atau faktor lingkungan, terutama kualitas pengajaran.

5.1.3 Mata Kuliah ICT (Information, Comunication and Technology)
·      Definisi ICT
Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan,memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan.
·      Manfaat ICT dan Penerapan ICT Dalam Dunia Pendidikan
Hasil penelitian Kurniawati et,al (2005) menunjukan bahwa pada umumnya pendapat guru dan siswa tentang manfaat ICT khususnya edukasi net antara lain : 1) Memudahkan guru dan siswa dalam mencari sumber belajar alternatif, 2 ) Bagi siswa dapat memperjelas materi yang telah disampaikan oleh guru, karena disamping disertai gambar juga ada animasi menarik, 3) Dapat berlatih soal dengan memanfaatkan uji kompetensi, 4) Cara belajar lebih efisien, 5) Wawasan bertambah, 6) Meringankan dalam membuat contoh soal, 7) Mengetahui dan mengikuti perkembangan materi dan info-info lain yang berhubungan dengan bidang studi, Membantu siswa dalam mempelajari materi secara individu selain disekolah, 9) Membantu siswa mengerti ICT.
Berbagai manfaat diatas adalah penerapan ICT di sekolah antara murid dengan guru.Tidak ada bedanya dengan penerapan di kampus antara dosen dan mahasiswa.Contoh lingkungan pendidikan yang telah mengimplementasikan dan pelopor ICT dalam proses pendidikan adalah kampus UI dan ITB. ICT digunakan untuk informasi tentang biaya kuliah, kurikulum, dosen pembimbing, atau banyak yang lainnya.Kemudian pada masa sekarang sudah banyak sekali, bahkan hampir semua lingkungan pendidikan terutama kampus dan sekolah menengah atas sudah menerapkan ICT.
·      Mata Kuliah ICT
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat banyak me-nawarkan berbagai kemudahan-kemudahan baru dalam pembelajaran. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK/ICT) dalam pembelajaran saat ini terus berkembang. Bahan belajar merupakan elemen penting dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk pembelajaran. Untuk itu, maka kemampuan seorang guru dalam mengembangkan bahan belajar berbasis media blog menjadi sangat penting. Bahan ajar adalah segala bentuk conten baik teks, audio, foto, video, animasi, dll yang dapat digunakan untuk belajar. Sementara itu kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat memungkinkan terjadinya pergeseran orientasi belajar dari outside-guided menjadi selfguided dan dari knowledge-as-possesion menjadi knowledge-as-construction. Lebih  dari itu, teknologi ini ternyata turut juga memainkan peran penting dalam memper-baharui konsepsi pembelajaran, yang semula focus pada pembelajaran semata-mata sebagai suatu penyajian berbagai pengetahuan, kemudian menjadi pembelajaran sebagai suatu bimbingan  agar siswa mampu melakukan eksplorasi sosial budaya yang kaya akan pengetahuan.
Mata kuliah ICT yang saat ini sudah masuk dalam kurikulum pembelajaran di tiap universitas adalah sebuah aplikasi dari perkembangan IPTEK saat ini, di universitas harapan palembang mata kuliah ICT  bertujuan membahas secara komprehensif tentang perkembanangan teknologi dan informasi serta dampak dan aplikasinya dalam pendidikan, khususnya dalam pendidikan jarak jauh. Pembahasan meliputi aspek kemasyarakatan psikologis dan ekonomis.

5.2 Kerangka Berfikir
a.    Mutu hasil belajar mahasiswa TP pada mata kuliah ICT di Universitas Harapan Palembang masih belum maksimal hal ini dapat dilihat dari data nilai KRS semester ganjil tahun ajaran 2010/2011.
b.    Hasil Penelitian pendahuluan penulis didapat indikasi yang mempengaruhi kurang maksimalnya mutu hasil belajar ini adalah faktor pendidikan dosen yang mengajar mata kuliah ICT dimana terdapat perbedaan tingkat pendidikan dosen yang mengajar Mata kuliah ICT tersebut.
c.    Adapun Tingkat pendidikan yang dimaksud adalah dosen yang berpendidikan magister (S2) dan dosen yang berpendidikan doktor (S3).

5.3 Hipotesis Penelitian
Pada penelitian ini hipotesis kerja (Ha) yang diajukan penulis sebagai berikut:
a.    Mutu hasil belajar mahasiswa teknologi pendidikan pada mata kuliah ICT yang diajar dosen yang berpendidikan Doktor (S3) lebih baik daripada yang diajar dosen yang berpendidikan Magister (S2).
b.    atau dengan kata lain ada perbedaan mutu hasil belajar mahasiswa teknologi pendidikan pada mata kuliah ICT yang diajar dosen yang berpendidikan Doktor (S3) dengan yang diajar dosen yang berpendidikan Magister (S2).

6.    PENGUJIAN HIPOTESIS
Kriteria pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah:
  • Terima Ho: Jika r hitung  ≤ r tabel tolak Ha
  • Tolak Ho  : Jika r hitung  ≥ r tabel terima Ha
Ho (Hipotesis nol), Tidak ada perbedaan mutu  hasil belajar mahasiswa teknologi pendidikan pada mata kuliah ICT yang diajar dosen yang berpendidikan Magister (S2) dengan yang diajar dosen yang berpendidikan Doktor (S3).
Ha (Hipotesis Alternatif), Ada perbedaan mutu hasil belajar mahasiswa teknologi pendidikan pada mata kuliah ICT yang diajar dosen yang berpendidikan Magister (S2) dengan yang diajar dosen yang berpendidikan Doktor (S3).
7.    METODE PENELITIAN
7.1    Tempat dan Jadwal Penelitian
Tempat Penelitian ini yaitu di universitas harapan palembang indonesia. Jadwal penelitian direncanakan akan dimulai awal semester ganjil yaitu bulan juni sampai dengan september 2012.
7.2    Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif komparatif (Ex Post Facto) atau penelitian perbandingan yang bertujuan mengetahui sebab akibat antara dua variabel atau lebih.
7.3    Populasi dan Sampel
7.3.1 Populasi
Populasi adalah: Keseluruhan subjek yang akan diteliti dalam penelitian (Arikunto,2002:115). Populasi dapat dibagi menjadi dua yaitu populasi terhingga dan populasi tak terhingga. Dalam penelitian ini penulis menggunakan populasi terhingga yaitu populasi yang mengandung subjek yang dapat ditentukan jumlahnya. Untuk memperoleh data yang diperlukan supaya sesuai judul yang telah dipilih maka penulis akan mengambil populasi mahasiswa S1 program studi teknologi pendidikan semester ganjil tahun ajaran 2011/2012, yang terdiri dari 10 kelas semester satu yang masing masing berjumlah 20 orang/kelas jadi total populasi adalah 200 orang mahasiswa.
7.3.2 Sampel
Sampel adalah Sebagian atau wakil dari populasi penelitian yang diteliti” (Arikunto,2002:116). Menurut sudjana (1990:5) sampel adalah sebagian dari populasi atau wakil dari populasi yang kan diteliti. Jadi dapat disimpulkan bahwa sampel adalah bagian atau wakil dari populasi statistik yang mengandung semua karakteristik populasi yang isinya dipelajari untuk memperoleh sebuah informasi.

7.3.3 Teknik Pengambilan Sampel
Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik sampling probability sampling dengan teknik simple random sampling. Dimana teknik pengambilan sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut. Teknik ini diambil karena anggota populasi dianggap homogen atau sejenis yaitu mahasiswa TP semester ganjil yang sedang sama sama mengambil mata kuliah ICT. Dengan demikian maka penulis akan mengambil sampel masing masing setiap kelas diambil secara acak lima mahasiswa perkelasnya jadi total sampel dalam penelitian ini berjumlah 50 orang mahasiswa.
8.    DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL
8.1    Variabel Penelitian
Terdapat dua variabel dalam penelitian ini yaitu variabel terikat (X) yaitu Mutu hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah ICT, dan variabel bebas yaitu tingkat pendidikan dosen antara lain magister (S2) dan Doktor (S3). Dimana jumlah dosen magister adalah 400 orang dan doktor 148 orang, yang akan diteliti adalah dosen yang mengajar ICT di 10 kelas reguler pada program studi TP saja.

8.2    DOV ( Definition Of Variabel)
a.    Mutu Hasil Belajar Mahasiswa
Mutu hasil belajar mahasiswa yang berupa nilai KHS (Kartu Hasil Studi) khususnya pada mata kuliah ICT yang diajarkan oleh Dosen S2 maupun oleh dosen S3 pada semester ganjil tahun ajaran 2011/2012.
b.    Dosen berpendidikan S2 dan S3 adalah Kualifikasi pendidikan yang dimililiki seorang pengajar perguruan tinggi yang dasar hukum dan ketentuannya tercantum dalam undang undang guru dan dosen pada BAB V pasal 45 dan 46 tantang kompetensi untuk menjadi seorang dosen perguruan tinggi.
c.    Mata kuliah ICT adalah mata bertujuan membahas secara komprehensif tentang perkembanangan teknologi dan informasi serta dampak dan aplikasinya dalam pendidikan, khususnya dalam pendidikan jarak jauh. Pembahasan meliputi aspek kemasyarakatan psikologis dan ekonomis. Diman mata kuliah ini adalah mata kuliah wajib di perkuliahan semester ganjil.
9.    TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Pada penelitian ini penulis mengguanakan beberapa teknik pengumpulan data antara lain :
a.    Dokumentasi
Dipakai saat akan mengambil data nilai KHS mahasiswa tahun ajaran 2011/2012, serta data jumlah dosen pengajar yang ada di Unuversitas harapan palembang.
b.    Observasi Lapangan
Sebagai pengamatan awal peneliti dalam mengetahui tingkat perbedaan atau perbandingan mutu hasil belajar mahasiswa.
c.    Wawancara
Sebagai teknik penunjang hasil observasi lapangan tentang perbedaan cara mengajar dosen S2 dan S3 di kelas, sehingga menimbulkan perbedaan mutu hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah ICT tersebut.

10.    TEKNIK ANALISA DATA
10.1     Analisa Data
Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebelum pengujian hipotesis komparatif adalah sebagai berikut:
·      Uji Normalitas (Chi-Square)
Uji Chi  Square  berguna untuk menguji hubungan atau pengaruh dua buah variabel nominal da n me ngukur kuatnya hubungan antara variabel yang  satu dengan variabel nominal lainnya ( C = Coefisien of co ntingency). Sebelum data yang telah diperoleh dianalisis, lebih lanjut terlebih dahulu data diuji kenormalannya, agar data tersebut benar-benar representatif. Untuk menguji data yang telah diperoleh, peneliti menggunakan rumus Chi-Kuadrat, yang rumusnya sebagai berikut:
(Sugiyono: 104)

Dimana:  = Nilai Chi Kuadrat
             = Frekuensi yang di Observasi
            = Frekuensi yang di harapkan
2. Uji Homogenitas ( Varians)
Uji kesamaan dua varians digunakan untuk menguji apakah sebaran data tersebut homogen atau tidak, yaitu dengan membandingkan kedua variansnya. Jika dua kelompok data atau lebih mempunyai varians yang sama besarnya, maka uji homogenitas tidak perlu dilakukan lagi karena datanya sudah dianggap homogen. Uji homogenitas dapat dilakukan apabila kelompok data tersebut dalam distribusi normal. Uji homogenitas data dilakukan dengan dua cara, yaitu uji F dari Havley dan uji Bartlett.  Uji F dari Havley biasanya digunakan untuk menguji homogenitas sebaran dua kelompok data, sedangkan uji Bartlett biasanya digunakan untuk menguji homogenitas lebih dari dua kelompok data. Setelah melakukan uji normalitas dilakukan uji homogenitas, dilakukan menggunakan uji F dengan rumus sebagai berikut:
          Sudjana (2002:250)
Keterangan:
F = uji F
s12 = variansi data hasil belajar kelas eksperimen
s22 = variansi data hasil belajar kelas kontrol
Dimana Perhitungan S dengan menggunakan Rumus Berikut:

10.2 Uji Hipotesis
Selanjutnya setelah melakukan uji normalitas data dan homogenitas data dalam penelitian kausal komparatif ada dua uji Hipotesis yang biasa digunakan yaitu uji t-test. Berikut penjelasannya:
1.    Uji t-test
Terdapat dua rumus umum t-test yang dapat digunakan dalam menguju hipotesis komparatif dua sampel independen yaitu antara lain:
Jika      Data berbentuk interval atau rasio
Sampel bebas/independen
Rumusnya: t =          (Sugiyono, 2006:134)
Dimana:
X1     =     Rata-rata  kelompok sampel 1
X   =    Rata-rata kelompok sampel 2
     =    Jumlah anggota kelompok 1
     =    Jumlah anggota kelompok 2
     =    Simpangan baku kelompok 1
    =    Simpangan kelompok 2
Dimana Nilai S ( Simpangan Baku) di hitung Dengan Rumus :
=
                  =
Selanjutnya jika
Data berbentuk interval atau rasio
Sampel berhubungan/berkorelasi
Rumusnya : t =         (Sugiyono, 2006:119)
Dimana :
X1     =     Rata-rata sampel 1                           
X   =    Rata-rata sampel 2                          
     =    Jumlah anggota sampel 1
     =    Jumlah anggota sampel 1    
r        =   Korelasi Antara 2 sampel
     =    Simpangan baku sampel 1
    =    Simpangan sampel 2
 = Varians Sampel 1
 = Varians Sampel 2
        
Dimana Nilai S ( Simpangan Baku) di hitung Dengan Rumus :
=
                  =

DAFTAR PUSTAKA

Afifatun, Siti. 2010. Hakekat Mengajar Bagi Dosen Studi Kasus di STIT Ibnu Rusyd Kotabumi. Lampung : Jurnal Pendidikan Universitas Lampung.
Arifin, Imron. 1996. Penelitian Kualitatif dalam ilmu-ilmu social. Malang: Kalimashaada
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur penelitian suatu pendekatan tindakan. Jakarta: Rineka cipta.
Bungi Lexy. Moleong J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya, 1990
Bungin, Burhan. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003
Darmadi, Hamid, 2011.  Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta
Emzir, 2007. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta   Raja Grafindo Persada
Paridjo, Dkk, 1999. Studi Komparatif Prestasi Belajar Matematika Siswa Sd Kelas VI yang Diajar Guru Berpendidikan Diploma Dua PGSD Dengan Belum Berpendidikan Diploma Dua PGSD Se Kabupaten Tegal.  Jawa Tengah : Skripsi, Universitas Terbuka.
Sudjana. 1989. Metoda Statistik. Bandung: Tarsito
Sugiyono. 2006. Statistik untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta
Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Pendidikan Pendidikan Kualitatatif dan
R & D. Bandung : Alfabeta
Undang – Undang Guru dan Dosen No 14. 2005. Jakarta: Sinar Grafika
http://yunjumiati.wordpress.com/category/mata-kuliah-ict/dinduh tanggal 03/2/12

http://april04thiem.wordpress.com/2010/10/26/pengertian-ict-sertapenerapannya-dalam-dunia-pendidikan/ diunduh tanggal 03/02/2012


3 komentar:

  1. terima kasih ka, ijin referensi untuk tugas aku yah..
    detil produk

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Senang bisa membantu..semoga sukses! Thx untuk kunjungannya!

    BalasHapus