Rabu, 26 Desember 2012


MODEL MODEL EVALUASI KURIKULUM
Oleh :
Anita Adesti
Mahasiswa Teknologi Pendidikan PPS UNSRI
1.    Pendahuluan
            Tidak diragukan lagi bahwa evaluasi kurikulum memiliki peranan yang sangat penting bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan formal. Melalui evaluasi kurikulum kemajuan efektifitas mengajar guru dapat diukur, prestasi siswa dapat dipantau dengan lebih cermat, dan bagi pengembang kurikulum dapat memanfaatkan hasil evaluasi untuk perbaikan kurikulum di masa yang akan datang. Dalam pelaksanaannya para evaluator kurikulum banyak memakai berbagai model evaluasi kurikulum yang sudah banyak dikembangkan saat ini. Ternyata model-model evaluasi kurikulum berkembang dengan pesat, sehingga gejala  perkembangannya tidak berbeda dengan perkembangan disiplin ilmu pendidikan. Ada model yang mencakup keseluruhan proses pengembangan kurikulum tetapi ada juga yang memiliki fokus khusus pada suatu fase kegiatan pengembangan kurikulum.
            Evaluasi kurikulum bukanlah suatu kegiatan yang mudah. Seorang evaluator hendaknya memiliki pemahaman akan teori-teori kurikulum dan metode atau model-model evaluasi kurikulum. Apalagi kurikulum satuan pendidikan, yang pelaksanaannya sangat dipengaruhi oleh kondisi masing-masing sekolah. Tentunya hal ini membutuhkan ketelitian dan penguasaan model evaluasi kurikulum yang matang dari evaluator. Dan atas dasar pertimbangan-pertimbangan inilah maka penting kiranya untuk dibahas model-model evaluasi kurikulum yang berkembang saat ini.
            Makalah ini mencoba memaparkan model-model evaluasi kurikulum yang dapat dipilih untuk diterapkan demi kemajuan yang hendak dicapai, baik oleh guru sebagai pelaksana maupun pemerintah sebagai pengembang kurikulum. Antara satu model evaluasi dengan model evaluasi yang lain memiliki kelebihan dan kekurangan.
            Satu model evaluasi hanya mementingkan hasil tanpa memperhatikan proses pencapaian hasil, sedang yang lain sebaliknya. Untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal dimungkinkan untuk menggunakan lebih dari satu model evaluasi, sehingga evaluasi bisa lebih optimal.

Berdasarkan Penjelasan diatas maka dirumuskan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu:
1.      Apa sajakah model – model evaluasi kurikulum  yang berkembang saat ini?
2.      Model evaluasi model evaluasi kurikulum manakah yang tepat untuk di adopsi dan di implementasikan dalam kurikulum nasional kita?
Untuk rumusan masalah di atas, tentunya penulisan makalah ini memiliki tujuan sebagai berikut, yaitu:
1.      Mengetahui dan membahas model – model evaluasi kurikulum yang berkembang saat ini
2.      Mengetahui dan mendiskusikan model evaluasi kurikulum manakah yang tepat untuk diapdopsi dan diimplementasikan dalam kurikulum nasional kita

            Selanjutnya, diharapkan penulisan makalah ini memiliki manfaat ilmiah dalam mengkaji model – model evaluasi kurikulum beserta komponen – komponen yang mendukungnya guna memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada para pendidik yang pada hakikatnya adalah pelaksana dan evaluator kurikulum di lapangan 

2. Pembahasan
2.1 Pembagian Model – Model Evaluasi Kurikulum
                        Perkembangan model untuk evaluasi kurikulum memperlihatkan suatu gejala yang tidak berbeda dengan perkembangan disiplin ilmu pendidikan dan upaya-upaya pendidikan yang pernah dilakukan manusia. Meskipun demikian, sejarah perkembangan bidang evaluasi kurikulum dan kemudian menghasilkan model-model evaluasi kurikulum memperlihatkan sesuatu yang khas. Perkembangan berikutnya memperlihatkan fenomena lain dimana model-model evaluasi kurikulum tadi dikembangkan secara khusus baik secara individual (Provus model) maupun secara kelompok (CIPP).
            Banyak Pendapat yang disampaikan mengenai model – model evaluasi kurikulum ini, setiap pendapat tentunya mengemukakan pendapat yang berbeda –beda. Macam-macam model evaluasi yang dipergunakan bertumpu pada aspek-aspek tertentu yang diutamakan dalam proses pelaksanaan kurikulum. Model evaluasi yang bersifat komparatif berkaitan erat dengan tingkah laku individu, evaluasi yang menekakan tujuan berkaitan erat dengan kurikulum yang menekankan pada bahan ajar atau isi kurikulum. Adapun model (pendekatan) antropologis dalam evaluasi ditujukan untuk mengevaluasi tingkah laku dalam suatu lembaga social. Dengan demikian sesungguhnya terdapat hubungan yang sangat erat antara evaluasi dengan kurikulum.
Dari beberapa sumber yang diperoleh pemakalah ada empat pendapat dalam pengelompokan model – model evaluasi kurikulum antara lain :
1.    Pendapat yang membagi model evaluasi kurikulum kedalam lima rumpun model. Pendapat ini dicantumkan dalam (Ibrahim dan Masitoh 2011:112). Model evaluasi tersebut yaitu :
ü  Measurement
ü  Congruence
ü  Illumination
ü  Educational system evaluation
ü  CIPP

2.    Pendapat yang membagi model evaluasi kurikulum menjadi 3 model. Pendapat ini dicantumkan dalam (Sukmadinata 2011: 185-188) yaitu:
a)      Evaluasi Model Penelitian
b)      Evaluasi Model Objektif
c)      Evaluasi Model Campuran Multivariasi

3.    Pendapat yang membagi model evaluasi kurikulum berdasarkan fenomena sejarah dan suatu elemen dalam proses sosial yang dihubungkan dengan perkembangan pendidikan. Pendapat ini dicantumkan dalam:
a)    Model EPIC ( Evaluation, Program, for Innovative Curricullum )
b)   Model CIPP ( Content, Input, Process, Produk) oleh: Stufflebeam
c)    Model CIPOI ( Context Evaluation, Inputs Evaluation, Process Evaluation, Output Evaluation, and Impact Evaluation ).
d)   Model 3P ( Program, Proses dan Product)

4.    Pendapat yang membagi model evaluasi kurikulum berdasarkan model evaluasi yang dikembangkan di negara AS, Inggris, dan Australia. Antara lain:
a.    Model Evaluasi Kuantitatif, terdiri dari:
ü Model Black Box Tyler
ü Model Teoritik Taylor dan Maguire
ü Model Pendekatan Sistem Alkin
ü Model Countenance Stake
b.    Model Ekonomi Mikro
c.    Model Evaluasi Kualitatif, terdiri dari :
ü Model Studi Kasus
ü Model Iluminatif
ü Model Responsif  
2.2  Penjelasan masing – masing Model Evaluasi Kurikulum
2.2.1 Pendapat Pertama
            Secara umum model-model evaluasi kurikulum yang dikembangkan selama ini ada lima model evaluasi kurikulum, yaitu: 1) measurement, 2) congruence, 3) illumination, 4) Model CIPP. Setiap model evaluasi kurikulum yang diterapkan masing-masing memiliki tingkat kelebihan dan kekurangan serta resiko yang selalu harus diantisipasi agar setiap model evaluasi kurikulum yang diterapkan dapat berjalan secara efektif dan efisien.
  . Measurement
 Salah bentuk evaluasi kurikulum adalah melalui measurement, yaitu berupa pengukuran. Untuk memperoleh data yang akurat pengukuran atau measurement merupakan alternatif yang mungkin dianggap paling tepat dibandingkan dengan jenis evaluasi lainnya. Hasil belajar siswa yang dituangkan dalam bentuk angka lebih banyak dilakukan melalui measurement. Contoh lain dari kegiatan pengukuran misalnya untuk seleksi siswa, membandingkan dua jenis metode mengajar terhadap hasil belajar siswa, dan lain sebagainya. Dengan demikian measurement merupakan salah satu alat dalam kegiatan evaluasi, tapi tidak bisa sebagai pengganti evaluasi “Measurement in not evaluation, but it can provide usefuldata for evaluation”.
b. Congruence
Model evaluasi congruence bertitik tolak pada upaya mencari kesesuaian antara tujuan program pendidikan dengan hasil belajar yang diperoleh peserta didik. Hasil dari evaluasi model congruence bisa dijadikan masukan (in-put) untuk perbaikan program pengembangan kurikulum selanjutnya, misalnya penyempurnaan dalam kegiatan pembelajaran, bimbingan terhadap peserta didik, dan lain sebagainya.
c. Illumination
Evaluasi melalui model illuminnation didasarkan pada upaya mencari data terhadap pelaksanaan program. Selama program dilaksanakan mungkin terdapat beberapa aspek yang mempengaruhi pelaksanaan program, seperti faktor lingkungan. Melalui kegiatan evaluasi ini pula semestinya diperoleh data mengenai kelebihan dan kelemahan program, yang pada akhirnya akan dijadikan masukan untuk memperbaiki program-program berikutnya.

d. Model Educational System Evaluation
Konsep ini memperlihatkan banyak segi positif untuk kepentingan proses pengembangan kurikulum. Ditekankannya peranan kriteria absolut maupun relatif dalam proses evaluasi sangat penting artinya dalam memberikan ciri khas bagi kegiatan evaluasi. Objek evaluasi mencakup input (bahan, rencana, dan peralatan), proses dan hasil yang baik. Jenis data yang dikumpulkan meliputi data objektif.
e. Model CIPP
            Fokus yang menjadi subjek evaluasi model CIPP adalah Contect, Input, process, dan product. Dengan demikian tujuan dari evaluasi model CIPP mengarah pada seluruh aspek yang terlibat dalam program pendidikan, mulai dari karakteristik peserta didik, lingkungan, tujuan, isi, peralatan, sarana dan prasarana yang digunakan. Model ini menitikberatkan pada pandangan bahwa keberhasilan program oendidikan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya : karakteristik peserta didik, karakteristik lingkungann tujuan program, peralatan yang digunakan, dan prosedur/ mekanisme pelaksanaan program evaluasi tersebut.

2.2.2 Pendapat Kedua
a.    Evaluasi Model Penelitian
            Menurut Sukmadinata (2011) model evaluasi kurikulum yang menggunakan model penelitian didasarkan atas metode tes psikologis dan eksperimen lapangan. Tes psikologis atau tes psikometrik pada umumnya mempunyai dua bentuk, yaitu tes intelegensi yang ditunjukan untuk mengukur kemampuan bawaan, serta tes hasil belajar yang mengukur perilaku skolastik. Eksperimen lapangan dalam pendidikan, dimulai pada tahun 1930 dengan menggunakan metode yang biasa digunakan dalam penelitian botani pertanian. Para ahli botani pertanian mengadakan percobaan untuk ditanam pada petak-petak tanah yang memiliki kesuburan dan lain-lain yang sama. Dari percobaan tersebut dapat diketahui benih mana yang paling produktif.
            Menurut Sukmadinata (2011) model eksperimen dalam botani pertanian dapat digunakan dalam pendidikan, anak dapat disamakan dengan benih, sedang kurikulum serta berbagai fasilitas serta sistem sekolah dapat disamakan dengan tanah dan pemeliharaannya. Untuk mengetahui tingkat kesuburan benih (anak) serta hasil yang dicapai pada akhir program percobaan dapat digunakan tes (pretest dan post test).
b.    Evaluasi Model Objektif
Evaluasi model objektif (model tujuan) berasal dari Amerika Serikat. Perbedaan model objektif dengan model komparatif ada dalam dua hal :
a.    Dalam model objektif evaluasi merupakan bagian yang sangat penting dari proses pengembangan kurikulum.
b.    Kurikulum tidak dibandingkan dengan kurikulum lain tetapi diukur dengan seperangkat objektif (tujuan khusus). Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh tim pengembang model objektif, yaitu:
1. Ada kesepakatan tentang tujuan-tujuan kurikulum.
2. Merumuskan tujuan-tujuan tersebut dalam perbuatan siswa.
3. Menyusun materi kurikulum yang sesuai dengan tujuan tersebut.
4. Mengukur kesesuaian antara perilaku siswa dengan hasil yang diinginkan.
Pendekatan ini yang digunakan oleh Ralph Tylor (1930) dalam menyusun tes dengan titik tolak pada perumusan tujuan tes, sebagai asal mula pendekatan sistem (system approach) Pada tahun 1950-an Benyamin S.Bloom dengan kawan-kawannya menyusun klasifikasi  sistem tujuan yang meliputi daerah-daerah belajar (cognitif domain).
c.    Evaluasi Model Campuran Multivariasi
      Evaluasi model perbandingan dan model Tylor dan Bloom melahirkan evaluasi model campuran multivariasi, yaitu strategi evaluasi yang menyatukan unsur-unsur dari kedua pendekatan tersebut. Seperti halnya pada eksperimen lapangan serta usaha-usaha awal dari Tylor dan Bloom, metode tersebut masuk kebidang kurikulum dari proyek evaluasi. Metode-metode tersebut masuk ke bidang kurikulum setelah computer dan program paket berkembang yaitu tahun 1960. Langkah-langkah model multivariasi adalah sebagai berikut:
a.    Mencari sekolah yang berminat untuk dievaluasi/diteliti.
b.    Melaksanakan program. 
c.    Sementara tim penyusun, menyusun tujuan yang meliputi semua tujuan dari pengajaran
d.   Bila semua informasi yang diharapkan telah terkumpul, maka mulailah pekerjaan computer
e.    Tipe analisis dapat juga digunakan untuk mengukur pengaruh dari beberapa variabel  yang berbeda.
Beberapa kesulitan yang dihadapi dalam model campuran multivariasi, yaitu:
a.    Diharapkan memberikan tes statistik yang signifikan.
b.    Terlalu banyaknya variabel yang perlu dihitung.
c.    Model multivariasi telah mengurangi masalah control berkenaan dengan eksperimen lapangan tetapi tetap menghadapi masalah-masalah pembandingan.

2.2.3  Pendapat ketiga
a.    Model EPIC ( Evaluation Program for Innovative Curriculums)
Model EPIC menggambarkan keseluruhan program evaluasi dalam sebuah kubus.    Kubus tersebut mempunyai tiga bidang, yaitu:
a.       Behavior (perlakuan) yang menjadi sasaran pendidikan yang meliputi perilaku cognitive, affective dan psychomotor.
b.      Instruction (pengajaran) yang meliputi organization, content, method, facilitiesand cost.
c.       Kelembagaan yang meliputi student, teacher, administrator, educational specialist, family and community.
b.     Model CIPP (Context, Input, Process, dan Product)
Model CIPP (Context, Input, Process dan Product) yang bertitik tolak pada pandangan bahwa keberhasilan progran pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti : karakteristik peserta didik dan lingkungan, tujuan program dan peralatan yang digunakan, prosedur dan mekanisme pelaksanaan program itu sendiri.
Evaluasi model ini bermaksud membandingkan kinerja (performance) dari berbagai dimensi program dengan sejumlah kriteria tertentu, untuk akhirnya sampai pada deskripsi dan judgment mengenai kekuatan dan kelemahan program yang dievaluasi. Model ini kembangkan oleh  Stufflebeam (1972) menggolongkan program pendidikan atas empat dimensi, yaitu :
a.    Context, yaitu situasi atau latar belakang yang mempengaruhi jenis-jenis tujuan dan strategi pendidikan yang akan dikembangkan dalam program yang bersangkutan.
b.    Input yaitu bahan, peralatan, fasilitas yang disiapkan untuk keperluan pendidikan.
c.    Process yaitu  pelaksanaan nyata dari program pendidikan.
d.   Product yaitu keseluruhan hasil yang dicapai oleh program pendidikan.
c.     Model C – I – P – O – I
            Model pendekatan ini diadopsi dari CIPP-nya Daniel L. Stufflebeam (1971) yang menyatakan bahwa evaluasi dapat membantu proses pengambilan keputusan dalam pengembangan program. Model pendekatan ini terdiri dari :
1.    Context Evaluation (C) evaluasi untuk menganalisa problem dan kebutuhan dalam suatu sistem. Kegiatan evaluasi dimaksudkan untuk dilakukan dengan tidak melepaskan diri dari konteks yang membentuk sistem itu sendiri dalam upaya pencapaian tujuan program.
2.    Inputs Evaluation (I) mengevaluasi strategi dan sumber-sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan program. Hasil input evaluation dapat membantu pengambil keputusan untuk memilih strategi dan sumber terbaik dalam keterbatasan tertentu untuk mencapai tujuan program.
3.    Process Evaluation (P) evaluasi dilakukan dengan maksud memonitor proses     pelaksanaan program.
4.    Outputs Evaluation (O) evaluasi dimaksudkan untuk mengukur sampai seberapa jauh hasil yang diperoleh oleh program yang telah dikembangkan. Tentu saja, hasilnya dapatdigunakan untuk mengambil keputusan apakah program diteruskan, diberhentikan atau secara total diubah.
5.    Impacts Evaluation (I) evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana program yang telah dikembangkan memberikan dampak yang positif dalam jangka waktu yang lebih panjang.

d.    Model 3 P (Program – Proses – Produk)
Model pendekatan ini merupakan model yang diadopsi dari model yang dikembangkan oleh Raka Joni (1981), esensi dari pendekatan evaluasi model ini, adalah sebagai berikut :
1.    Evaluasi Program
Merupakan evaluasi yang lebih memfokuskan diri pada evaluasi perencanaan program, dengan demikian evaluasi dilakukan sebelum program dilaksanakan untuk menetapkan rasional kelompok sasaran (targetted groups) serta mengidentifikasi   kebutuhan (needs assessment) dan potensi yang ada padanya di samping mengkaji dibelakang meja kesesuaian, perangkat kegiatan program dengan tujuan-tujuan yang ditetapkan untuk dicapai. Dengan demikian maka evaluasi perencanaan program merupakan   bagian integral dari pada pengembangan program.
b.    Evaluasi Proses
Yaitu evaluasi yang cenderung mengarah pada bentuk monitoring yang dilakukan pada saat kegiatan-kegiatan program berlangsung. Model evaluasi ini sangat penting untuk pengembangan program sebab tidak dengan sendirinya pelaksanaan kegiatan-kegiatan program sesuai dengan tujuan serta niat yang semula ditetapkan. Dalam bahasa analisis sistem, evaluasi ini dinamakan evaluasi proses.
c.    Evaluasi Produk
Merupakan evaluasi terhadap aspek hasil yang ditujukan kepada pencapai an tujuan program baik jangka pendek (hasil antara), maupun jangka panjang (hasil akhir) Maka, yang hendak dinilai adanya kesesuaian antara tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dengan hasil-hasil yang diperoleh. Di samping itu hasil-hasil sampingan baik yang dikehendaki maupun yang tidak dikehendaki, dapat dideteksi melalui evaluasi ini.

2.2.4 Pendapat Keempat
a.    Model Evaluasi Kualitatif
Adapun ciri yang menonjol dari evaluasi kuantitatif adalah penggunaan prosedur kuantitatif untuk mengumpulkan data sebagai konsekuensi penerapan pemikiran paradigma positivisme. Sehingga model-model evaluasi kuantitatif yang ada menekankan peran penting metodologi kuantitatif dan penggunaan tes. Ciri berikutnya dari model-model kuantitatif adalah tidak digunakannya pendekatan proses dalam mengembangkan kriteria evaluasi.
1)   Model Black Box Tyler
            Model tyler dinamakan Black Box karena tidak ada nama resmi yang diberikan oleh pengembangnya. Model ini dibangun atas dua dasar, yaitu : evaluasi yang ditujukan kepada peserta didik dan evaluasi harus dilakukan  pada tingkah laku awal peserta didik sebelum suatu pelaksanaan kurikulum serta pada saat peserta didik telah melaksanakan kurikulum tersebut. Berdasar pada dua prinsip ini maka Tyler ingin mengatakan bahwa evaluasi kurikulum yang sebenarnya hanya berhubungan dengan dimensi hasil belajar.
Adapun prosedur pelaksanaan dari model evaluasi Tyler adalah sebagai berikut:
1.    Menentukan tujuan kurikulum yang akan dievaluasi. Tujuan kurikulum yang dimaksud disini adalah model tujuan behavioral. Dan model ini di Indonesia sudah dikembangkan sejak kurikulum 1975. Adapun untuk kurikulum KTSP saat ini maka harus mengembangkan tujuan behavioral ini jika berkenaan dengan model kurikulum berbasis kompetensi.
2.    Menentukan situasi dimana peserta didik mendapatkan kesempatan untuk memperlihatkan tingkah laku yang berhubungan dengan tujuan. Dari langkah ini diharapkan evaluator memberikan perhatian dengan seksama supaya proses pembelajaran yang terjadi mengungkapkan hasil belajar yang dirancang kurikulum.
3.    Menentukan alat evaluasi yang akan digunakan untuk megukur tingkah laku peserta didik. Alat evaluasi ini dapat berbentuk tes, observasi, kuisioner, panduan wawancara dan sebagainya. Adapun instrument evaluasi ini harus teruji validitas dan reliabilitasnya.
ü Kelemahan dari model Tyler
Kelemahan dari model Tyler adalah tidak sejalan dengan pendidikan karena focus pada hasil belajar dan mengabaikan dimensi proses. Padahal hasil belajar adalah produk dari proses belajar. Sehingga evaluasi yang mengabaikan proses berarti mengabaikan  komponen penting dari kurikulum.
ü Kelebihan dari model Tyler
ini adalah kesederhanaanya. Evaluator dapat memfokuskan kajian evaluasinya hanya pada satu dimensi kurikulum yaitu dimensi hasil belajar. Sedang dimensi dokumen dan proses tidak menjadi focus evaluasi.

2)   Model Teoritik Taylor dan Maguire
Model evaluasi kurikulum Taylor dan Maguire ini lebih mendasarkan pada pertimbangan teoritik. Model ini melibatkan variabel dan langkah yang ada dalam proses pengembangan kurikulum. Dalam melaksanakan evaluasi kurikulum sesuai model teoritik Taylor dan Maguire meliputi dua hal, yaitu:
ü Mengumpulkan data objektif yang dihasilkan dari berbagai sumber mengenai komponen tujuan, lingkungan, personalia, metode, konten, hasil belajar langsung maupun hasil belajar dalam jangka panjang. Dikatakan data objektif karena mereka berasal dari luar pertimbangan evaluator.
ü Pengumpulan data yang merupakan hasil pertimbangan individual terutama mengenai kualitas tujuan, masukan dan hasil belajar.
Adapun cara kerja model evaluasi Taylor dan Maquaire ini adalah sebagai berikut:
ü Dimulai dari adanya tekanan/keinginan masyarakat terhadap pendidikan. Tekanan dan tuntutan masyarakat ini dikembangkan menjadi tujuan. Kemudian tujuan dari masyarakat ini dikembangkan menjadi tujuan yang ingin dicapai kurikulum. Adapun dalam pengembangan KTSP maka tekanan dari masyarakat ini dikembangkan pada tingkat Nasional dalam bentuk Standar Isi dan Standar Kompetensi Kelulusan. Dari dua standar ini maka satuan pendidikan mengembangkan visi dan tujuan yang hendak dicapai satuan pendidikan. Kemudian tujuan satuan pendidikan tersebut menjadi tujuan kurikulum dan tujuan mata pelajaran.
ü Evaluator mencari data mengenai keserasian antara tujuan umum dengan tujuan behavioral. Maka tugas evaluator disini mencari relevansi antara tujuan satuan pendidikan, kurikulum dan mata pelajaran yang berbeda dalam tingkat-tingkat abstraksinya. Dalam tahap ini evaluator harus menentukan apakah pengembagan tujuan behavioral tersebut membawa gains atau losses dibandingkan dengan tujuan umum ditahap pertama.
ü Penafsiran tujuan kurikulum. Pada tahap ini tugas evaluator adalah memberikan pertimbangan mengenai nilai tujuan umum pada tahap pertama. Adapun dua criteria yang dikemukan oleh Taylor dan Maguaire dalam memberi pertimbangan adalah: pertama, kesesuaian dengan tugas utama sekolah. kedua, tingkat pentingnya tujuan kurikulum untuk dijadikan program sekolah. adapun hasil dari kegiatan ini adalah sejumlah tujuan behavioral yang sudah tersaring dan akan dijadikan tujuan yang akan dicapai oleh mata pelajaran yang bersangkutan.
ü Mengevaluasi pengembangan tujuan menjadi pengalaman belajar.
Tugas evaluator disini adalah menentukan hasil dari suatu kegiatan belajar. Menelaah apakah hasil belajar yang telah diperoleh dapat digunakan dalam kehidupan dimasyarakat. Karena kurikulum yang baik adalah kurikulum yang menjadikan hasil belajar yang diperoleh peserta didik dapat digunakan dalam kehidupannya di masyarakat.
ü Kelebihan dari model ini adalah memberikan kesempatan pada evaluator untuk menerapkan kajian secara komprenhensip. Baik nilai maupun arti kurikulum dapat dikaji dengan menggunakan model ini. Adapun masalahnya bila diterapkan di Indonesia bahwa model ini hanya diterapkan di tingkat satuan pendidikan. Sehingga keseluruhan proses pengembangan kurikulum tingkat nasional tidak dapat dievaluasi dengan model ini.

3)   Model Pendekatan Sistem Alkin
            Model Alkin ini sedikit unik karena selalu memasukkan unsur pendekatan ekonomi mikro dalam pekerjaan evaluasi. Adapun pendekatan yang digunakan disebut Alkin dengan pendekatan Sistem. Dua hal yang harus diperhatikan oleh evaluator dalam model ini adalah pengukuran dan control variabel. Alkin membagi model ini atas tiga komponen. Yaitu masukan, proses yang dinamakannya dengan istilah perantara (mediating), dan keluaran (hasil). Alkin juga mengenal sisitem internal yang merupakan interaksi antar komponen yang langsung berhubungan dengan pendidikan dan system eksternal yang mempunyai pengaruh dan dipengaruhi oleh pendidikan. Model Alkin dikembangkan berdasarkan empat asumsi. Apabila keempat asumsi ini sudah dipenuhi maka model Alkin dapat digunakan. Adapun keempat asumsi itu yaitu:
1.    Variabel perantara adalah satu-satunya variabl Alkin ini sedikit unik karena selalu memasukkan unsur pendekatan ekonomi yang dapat dimanipulasi.
2.    Sistem luar tidak langsung dipengaruhi oleh keluaran sistem (persekolahan).
3.    Para pengambil keputusan sekolah tidak memiliki control mengenai pengaruh yang diberikan system luar terhadap sekolah.
4.    Faktor masukan mempengaruhi aktifitas faktor perantara dan pada gilirannya faktor perantara berpegaruh terhadap faktor keluaran.
ü Kelebihan dari model ini adalah keterikatannya dengan sistem. Dengan model pendekatan sistem ini kegiatan sekolah dapat diikuti dengan seksama mulai dari variabl-variabel yang ada dalam komponen masukan, proses dan keluaran.
ü Komponen masukan yang dimaksudkan adalah semua informasi yang berhubungan dengan karakteristik peserta didik, kemampuan intelektual, hasil belajar sebelumnya, kepribadian, kebiasaan, latar belakang keluarga, latar belakang lingkungan dan sebagainya.
ü Kelemahan dari model Alkin adalah keterbatasannya dalam fokus kajian yaitu yang hanya fokus pada kegiatan persekolahan. Sehingga model ini hanya dapat digunakan untuk mengevaluasi kurikulum yang sudah siap dilaksanakan disekolah.
4)   Model Countenance Stake
            Model countenance adalah model pertama evaluasi kurikulum yang dikembangkan oleh Stake. Stake mendasarkan modelnya ini pada evaluasi formal. Evaluasi formal adalah evaluasi yang dilakukan oleh pihak luar yang tidak terlibat dengan evaluan. Model countenance Stake terdiri atas dua matriks. Matrik pertama dinamakan matriks deskripsi dan yang kedua dinamakan matriks pertimbangan.
ü Matrik Deskripsi
Matrik deskripsi adalah sesuatu yang direncanakan (intent) pengembang kurikulum dan program. Dalam konteks KTSP maka kurikulum tersebut adalah kurikulum yang dikembangkan oleh satuan pendidikan. Sedangkan program adalah silabus dan RPP yang dikembangkan guru. Kategori kedua adalah observasi, yang berhubungan dengan apa yang sesungguhnya sebagai implementasi dari apa yang diinginkan pada kategori pertama. Pada kategori ini evaluan harus melakukan observasi mengenai antecendent, transaksi dan hasil yang ada di satu satuan pendidikan atau unit kajian yang terdiri atas beberapa satuan pendidikan.
ü Matrik Pertimbangan
Dalam matrik ini terdapat kategori standar, pertimbangan dan fokus antecendent, transaksi, autocamo (hasil yang diperoleh). Standar adalah kriteria yang harus dipenuhi oleh suatu kurikulum atau program yang dijadikan evaluan. Berikutnya adalah evaluator hendaknya melakukan pertimbangan dari apa yang telah dilakukan dari kategori pertama dan matrik deskriptif.
b.    Model Ekonomi Mikro
            Model ekonomi mikro pada dasarnya adalah model yang menggunakan pendekatan kuantitatif, yang memiliki fokus utama pada hasil (hasil dari pekerjaan, hasil belajar, dan hasil yang diperkirakan). Pertanyaan besar dari model ekonomi mikro adalah apakah hasil belajar yang diperoleh peserta didik sesuai dengan dana yang telah dikeluarkan. Menurut Levin (1983:17) ada  empat model di lingkungan ekonomi mikro yaitu cost-effectiveness, cost benefit, cost-utility, dan cost feasibility. Dari keempat model ini maka model cost-effectiveness yang paling sesuai untuk evaluasi kurikulum.
            Evaluator yang menerapkan model cost effectiveness harus dapat membandingkan dua program atau lebih, baik dana yang digunakan masing-masing program maupun hasil yang diakibatkan oleh setiap program. Perbandingan hasil dari kedua program tadi akan memberikan masukan bagi para pembuat keputusan mengenai program mana yang lebih menguntungkan dilihat dari hubungan antara dana dan hasil.
c. Model Evaluasi Kualitatif
              Model ini menggunakan metodologi kualitatif dalam pengumpulan data evaluasi. Menurut Reicchardt dan Cook (1979:9), dan Patton (1980:44-45) metodologi kualitatif berkembang dari filsafat fenomenologi. Selain penggunaan metodologi kualitatif, cirri khas lain dari model evaluasi kualitatif ialah selalu menempatkan proses pelaksanaan kurikulum sebagai fokus utama evaluasi. Model utama evaluasi kualitatif adalah studi kasus. Ada tiga model evaluasi kualitatif :
1.Model Studi Kasus
            Model ini memusatkan perhatiannya kepada kegiatan pengembangan kurikulum di satu satuan pendidikan. Unit tersebut dapat saja berupa satu sekolah, satu kelas bahkan hanya seorang guru atau kepala sekolah. Karakteristik model ini adalah data yang dikumpulkan terutama adalah data kualitattatif. Data kualitatif kaya dengan deksripsi dan dianggap lebih memberikan makna dibandingkan data kuantitatif. Data kualitatif dianggap lebih dapat mmengungkapkan apa yang terjadi di lapangan. Proses yang direkam tidak dinyatakan dengan angka tetapi dengan ungkapan menggambarkan peristiwa-peristiwa dalam proses sebagai suatu rangkaian berkelasinambungan.
Dalam menggunakan model evaluasi studi kasus, tindakan pertama yang harus dilakukan evaluator ialah familiarisasi dirinya terhadap kurikulum yang dikaji. Familiarisasi ini sangat penting sehingga dapat dikatakan bahwa evaluator yang tidak familiar terhadap kurikulum dan lingkungan satuan pendidikan yang mengembangkan dan melaksanakan kurikulum tidak boleh melakukan evaluasi.
2.    Model Illuminatif
            Model evaluasi illuminatif mendasarkan dirinya pada paradigma antropologi sosial. Model illuminatif memberikan perhatian terhadap lingkungan luas dan bukan hanya kelas dimana suatu inovasi kurikulum dilaksanakan. Bagi  Indonesia, perhatian yang luas dari model illuminatif memberikan kemungkinan pemahaman terhadap KTSP suatu satuan pendidikan yang lebih baik. Ada dua dasar konsep utama, yaitu sistem instruksi (instructional system) dan lingkungan belajar (learning milieu). Sistem instruksional disina diartikan sebagai “katalog, perspektus dan laporan-laporan kependidikan yang secara khusus berisi berbagai macam rencana dan pernyataan yang resmi berhubungan dengan pengaturan dan pengajaran.
3.    Model Responsive
            Model ini merupakan pengembangan lebih lanjut model countenancenya Stake, meskipun beberapa hal terdapat perbedaan yang prinsipil. Pertama, model countenance mempunyai fokus yang lebih luas dibanding model responsive. Model countenance memberikan perhatian terhadap kurikulum sebagai suatu rencana, dalam model responsive, fokus yang demikian sudah ditinggalkan. Perbedaan kedua ialah dalam pendekatan pengembangan kriteria. Model countenance berdasarkan pengembangan kriteria fidelity, model responsive mengembangkan kriterianya berdasarkan pendekatan proses. Model responsive tidak berbicara tentang pemakaian instrumen standar, tetapi memberikan perhatian yang besar interaaksi antara evaluator dengan pelaksana kurikulum. Tanpa interaksi tidak satupun  “isu” yang dapat diungkapkan.

2.3  Implementasi Model – Model Evaluasi Kurikulum Dalam Kurikulum Nasional (KTSP)
            Setelah penjelasan berbagai macam model – model evaluasi kurikulum diatas dapat dilihat bahwa setiap model memiliki keunggulan dan kekurangan masing – masing. Setiap model menawarkan cara kerjanya masing – masing yang ada beberapa yang sesuai dan tidak sesuai jika kita implementasikan dalam kurikulim KTSP kita. Sebelum kita menyimpulkan model mana yang sesuai untuk kita pakai dalam pengevaluasian KTSP maka berikut pemaparan tentang KTSP sebagai kurikulum yang diimplementasikan sejak tahun 2006 adalah penyempurnaan dari kuri-kulum sebelumnya sebagai bentuk antisipasi dan adaptasi perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam skala nasional dan global.
            Menurut Mulyasa (2009:8) : KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan masing-masing satuan pendidikan dengan mem-perhatikan dan berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan yang memiliki karak-terisitik khusus dari kurikulum sebelumnya dengan memberikan ke-sempatan luas pada setiap satuan pendidikan untuk mengembangkan potensi sekolah/daerah, karakterisitk sekolah/ daerah, sosial budaya masyarakat dan potensi serta karakterisitik peserta didik.
            Terlihat keinginan besar pemerintah memajukan pendidikan dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dengan kurikulum yang berorientasi kompetensi dengan pola pikir global akan tetapi bertindak lokal (think globally act locally). Kebijakan KTSP dapat juga dipandang sebagai wujud pelaksanaan Undang-undang No 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah sebagai wujud dari pelaksanaan otonomi daerah yang secara tegas dinyatakan dalam PP No 25 tahun 2000 yang mengatur pembagian ke-wenangan pemerintah pusat dan propinsi.
            Pemerintah pusat hanya mengatur mengenai penetapan standar kompetensi siswa, pengaturan kurikulum nasional dan penilaian hasil belajar, penetapan materi pelajaran pokok, pedoman pembiayaan pendidikan, persyaratan penerimaan, perpindahan dan sertifikasi siswa, kalender pendidikan dan jumlah jam efektif sedangkan pemerintah propinsi kewenangan terbatas pada penetapan kebijakan tentang penerimaan siswa dari masyarakat minoritas, terbelakang dan tidak mampu dan penyedian bantuan pengadaan buku mata pelajaran pokok/modul pendidikan bagi siswa. 
Dilihat dari penjelasan KTSP diatas maka penulis menyimpulkan bahwa kurikulum nasional lebih sesuai menggunakan model evaluasi CIPP (Context, Input, Proses and Product). Alasannya adalah dari segala keseluruhan komponen penyusunan KTSP sangat pas dengan tata cara pengevaluasian dalam model CIPP ini. Dalam evaluasi model CIPP, dievaluasi pengaruh keputusan-keputusan manajemen yang terkait dengan kurikulum. Proses utama pengevaluasian ada tiga, yaitu: (1) pengungkapan informasi yang dibutuhkan, (2) pengumpulan data, dan (3) pengembangan informasi terhadap hal-hal penting. Berdasarkan pengevaluasian, ada empat jenis keputusan yang dapat dirumuskan yaitu: (1) keputusan tentang perencanaan, (2) keputusan tentang penstrukturan, (3) keputusan tentang pengimplementasian, dan (4) keputusan tentang proses pengulangan.
Sesuai dengan jenis keputusan yang diambil, diklasifikasikan empat tipe pengevaluasian. Tipe-tipe tersebut adalah: (1) konteks, (2) masukan, (3) proses, dan (4) produk. Evaluasi tentang konteks dimaksudkan untuk mem­peroleh gambaran yang cermat tentang lingkungan pembelajaran siswa. Ber­dasarkan hal itu, dapat ditetapkan serangkaian tujuan, termasuk di dalamnya tujuan pelaksanaan evaluasi. Evaluasi tentang input atau masukan dimaksud­kan untuk mengembangkan informasi bagaimana pengembangan sumber-­sumber pembelajaran yang relevan dengan tujuan-tujuan program yang dite­tapkan. Evaluasi tentang proses dimaksudkan untuk mengembangkan penga­wasan dan pengelolaan program pembelajaran sebagai hasil pengimplemen­tasian kurikulum. Evaluasi tentang produk dimaksudkan untuk menetapkan apakah keluaran atau hasil pembelajaran itu sesuai dengan apa yang diha­rapkan dan digariskan dalam rumusan-rumusan tujuan. 

3. Penutup
3.1 Kesimpulan
è Dari beberapa sumber yang diperoleh pemakalah ada empat pendapat dalam pengelompokan model – model evaluasi kurikulum antara lain :
1.    Pendapat yang membagi model evaluasi kurikulum kedalam lima rumpun model. Model evaluasi tersebut yaitu :
ü Measurement
ü Congruence
ü Illumination
ü Educational system evaluation
ü CIPP
2.    Pendapat yang membagi model evaluasi kurikulum menjadi 3 model
ü  Evaluasi Model Penelitian
ü  Evaluasi Model Objektif
ü  Evaluasi Model Campuran Multivariasi
3.    Pendapat yang membagi model evaluasi kurikulum berdasarkan fenomena sejarah dan suatu elemen dalam proses sosial yang dihubungkan dengan perkembangan pendidikan antara lain :
ü Model EPIC ( Evaluation, Program, for Innovative Curricullum )
ü Model CIPP ( Content, Input, Process, Produk)
ü Model CIPOI ( Context Evaluation, Inputs Evaluation, Process Evaluation, Output Evaluation, and Impact Evaluation ).
ü Model 3P ( Program, Proses dan Product)
4.    Pendapat yang membagi model evaluasi kurikulum berdasarkan model evaluasi yang dikembangkan di negara AS, Inggris, dan Australia. Antara lain:
a.    Model Evaluasi Kuantitatif, terdiri dari:
ü Model Black Box Tyler
ü Model Teoritik Taylor dan Maguire
ü Model Pendekatan Sistem Alkin
ü Model Countenance Stake
b.   Model Ekonomi Mikro

c.    Model Evaluasi Kualitatif, terdiri dari :
ü Model Studi Kasus
ü Model Iluminatif
ü Model Responsif
è Kurikulum nasional lebih sesuai menggunakan model evaluasi CIPP (Context, Input, Proses and Product). Alasannya adalah dari segala keseluruhan komponen penyusunan KTSP sangat pas dengan tata cara pengevaluasian dalam model CIPP ini. Dalam evaluasi model CIPP, dievaluasi pengaruh keputusan-keputusan manajemen yang terkait dengan kurikulum. Proses utama pengevaluasian ada tiga, yaitu: (1) pengungkapan informasi yang dibutuhkan, (2) pengumpulan data, dan (3) pengembangan informasi terhadap hal-hal penting. Berdasarkan pengevaluasian, ada empat jenis keputusan yang dapat dirumuskan yaitu: (1) keputusan tentang perencanaan, (2) keputusan tentang penstrukturan, (3) keputusan tentang pengimplementasian, dan (4) keputusan tentang proses pengulangan.

3.2 Saran
Melihat pentingnya evaluasi kurikulum maka hendaknya kepada evaluator untuk memahami teori-teori model evaluasi kurikulum serta pemahaman terhadap kurikulum yang sedang dijalankan oleh satuan pendidikan. Sehingga evaluasi kurikulum tersebut bermanfaat dam menghasilkan kurikulum yang terbaik demi kemajuan dan keberhasilan pendidikan.
Evaluasi kurikulum model CIPP yang disarankan penulis adalah model yang dikembangkan oleh pakar kurikulum AS dan juga diterapkan di AS. Mengingat perbedaan karakteristik, terutama karakteristik sistem pendidikan antara di AS dengan di Indonesia, perlu dipikirkan pemodifikasian model. Pemodifikasian model hendaknya tidak menghilangkan substansi pelaksanaan dan tujuan evaluasi kurikulum.
  
REFERENSI
Fanny, (2012). “Model – Model Evaluasi Kurikulum” (Online) Tersedia http://fannymejil3.blogspot.com/2012/09/model-model-evaluasi-kurikulum.html (diakses 23 Desember 2012)


Ibrahim, R dan Masitoh, (2011), “Evaluasi Kurikulum “ dalam Kurikulum dan pembelajaran. Jakarta : Tim Pengembang MKDP FIP UPI, Rajawali Pers.

Mulyasa, E. (2009). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung PT Remaja Rosdakarya.

Sistaliah, (2011). “Mengevaluasi Kurikulum KTSP” (Online) Tersedia sis1to.files.wordpress.com/2011/04/mengeevaluasi-kurikulum.docx 
            (diakses 23 Desember 2012)

Sukmadinata, Nana. (2011). Pengembangan Kurikulum: Teori dan  Praktek.  Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Ummah, (2012). “Model – Model Evaluasi Kurikulum”  (Online) Tersedia http://forummah.blogspot.com/2012/03/makalah-model-model-evaluasi-kurikulum.html (diakses 23 Desember 2012)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar